Tuesday, July 25, 2006

Superhero Yatim Piatu

Anak yatim piatu punya potensi besar menjadi superhero, paling tidak menurut beberapa penulis komik terkenal di dunia. Superman adalah seorang anak yatim piatu yang dipungut oleh sebuah keluarga yang tak beranak. Batman, sejak kecil ditinggal mati oleh ayah ibunya dan dirawat oleh pelayan keluarganya. Robin dan Spiderman juga anak yatim piatu.

Menjalani kehidupan sebagai anak yatim membuat mereka tidak tumbuh seperti layaknya anak normal. Ketika remaja, Clark Kent sadar bahwa dirinya berbeda dari keluarganya, lingkungannya bahkan dunia yang ditinggalinya. Ia menjadi seorang yang minder, bahkan untuk menyatakan cinta kepada rekan sekantornya ia tidak berani. Ia menggunakan potensi-potensi yang ada di dalam dirinya secara sembunyi-sembunyi. Menyamar dengan memakai nama Superman, memakai celana dalam, pakaian balet dan jubah yang norak, untuk menghindari kenyataan bahwa ia adalah Clark Kent yang pemalu.


Menjadi pemalu dengan wanita bukalah menjadi milik paten Superman. Spiderman adalah contoh kedua superhero yatim yang minder dengan wanita. Padahal ia adalah seorang ilmuwan muda yang jenius dengan kreatifitas tinggi.




Lain halnya dengan Bruce Wayne, ia adalah seorang milyuner yang tidak tahu bagaimana menggunakan uangnya untuk melawan kejahatan. Dengan kekayaanya, dia bisa saja menyumbang ke kepolisian kota Gotham untuk kesejahteraan anggota dan perlengkapan kepolisian. Nggak harus memakai jubah hitam, topeng kelelawar, dan sekali lagi jubah yang norak, kemudian melompat dari gedung ke gedung kan!!! Padahal terbang saja tidak bisa.

Mungkin Batman ingin membunuh dirinya sendiri dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang beresiko tinggi. Maklumlah, ia melihat langsung kedua orang tuanya dibunuh. Tumbuh dengan kenangan yang demikian pahit, merasa sendirian tanpa harapan akan kehidupan keluarga yang normal, membuatnya memiliki keberanian untuk menghadapi kematian. Karena ia merasa jiwanya sudah mati ketika melihat orang tuanya dibantai, poor Batman.

Sebagaimanpun abnormalnya profil psikologis para superhero yatim piatu. Mereka adalah pahlawan-pahlawan yang menggunakan potensi dirinya secara maksimum demi kebaikan dunia, walaupun hanya di dalam komik dan dengan cara yang agak aneh. Jadi bila Anda melihat seorang anak yatim piatu, lihatlah wajahnya baik-baik, sebab mungkin saja ia akan menjadi superhero dunia.

Sunday, November 27, 2005

Hidup adalah memilih

Memulai kehidupan adalah sebuah pilihan, menjalaninya adalah konsekuensi, sedangkan mengakhirinya adalah kewajiban.

Kehidupan dimulai dengan sebuah pilihan. Walaupun bukan pilihan orang yang akan menjalaninya, tetapi tetap melalui sebuah pilihan. Ketika seorang laki2 memilih untuk meminang seorang wanita, atau ketika ia memilih untuk membuahi seorang wanita. Atau seorang wanita yang memilih menerima tawaran seorang laki2, atau ketika ia menyerahkan tubuhnya kepada seorang pria. Bahkan seorang pemerkosa pun "memilih" korbannya.

Tapi tidak ada seorang manusiapun di dunia ini memilih untuk memulai kehidupannya sendiri. Dimana ia akan dilahirkan, dari siapa ia diberanakan, siapa orang tuanya, apa etnisnya. Hingga ketika ia sadar bahwa ia hidup, ia hanya dapat menjalaninya.

Wednesday, June 22, 2005

If we could exchange our eyes


I some time think, what if we could exchange our eyes. Your eyes for me, and my eyes for you. Is it possible that we will look the world differently? We will look the color and shape of the world from another person eyes. To learn how their eyes give information about the surrounding to their head.

My professor once told me that eyes also an instrument. It's like a multimeter (device that measures electrical current, resistance and voltage), if i have two different multimeter and use them to measure a single resistor. Than it's by practice, both of the instruments would show different value. Although the is the same Resistor. The two instruments look at the same resistor with different point of view.

An eyes also an instrument, it measures colors and shapes. When light (which an electromagnetic wave) hit an object, the light being reflected by an object toward our eyes. Then the eyes measure the incoming light wave. And just like other instrument, although measure the same object, both give different value.

So it is possible that we see the color of an object differently. Although it the same object. If we exchange our eyes, I will see the color of the world from your perspective, and you will see my point of view. So let’s trade, an eyes for an eyes.